Kongres XII PPMI “Revitalisasi Gerakan Pers Mahasiswa”

MATARAM – Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) merupakan suatu Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang memiliki fungsi sebagai wadah bagi berbagi LPM yang ada di Indonesia. Tujuannya untuk melakuan advokasi dan sebagai penyelamat serta membangun jaringan kota/dewan kota juga untuk menangani LPM yang sedang mengalami masalah.

Kongres PPMI ke-XII  ini berlangsung selama 1 minggu, pada tanggal 20-26 Maret 2014 di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Kongres ini dihadiri oleh kurang-lebih sekitar 350 orang peserta yang berasal dari berbagai perwakilan LPM se-Indonesia. Tema yang diusung kali ini ialah “Revitalisasi Gerakan Mahasiswa” dengan harapan agar Pers Mahasiswa (PERSMA) mampu berpikir secara kritis dengan melakukan gerakan perubahan melalui sebuah tulisan. Kegiatan dalam Kongres PPMI ke-XII ini diantaranya adalah seminar nasional mengenai lingkungan hidup dengan pemateri dari perwakilan Ombudsman Republik Indonesia dan Mongabay Indonesia. Ombudsman adalah salah satu bagian dari kementrian yang dibuat untuk mengawasi segala bentuk pelanggaran pelayanan publik. Mongabay sendiri adalah komunitas penyelamat lingkungan, di dalam website resminya dapat diketahui banyak isu-isu mengenai lingkungan hidup.

Seminar lingkungan oleh perwakilan ombudsman di Mataram, NTB pada Sabtu, 22 Maret 2014. (FM/13)
Seminar lingkungan oleh perwakilan ombudsman di Mataram, NTB pada Sabtu, 22 Maret 2014. (FM/13)

Dalam kongres PPMI XII ini juga diadakan acara kelas PERSMA. “Acara ini sebenarnya bertujuan untuk membahas suatu isu mengenai lingkungan hidup, namun karena banyak yang bertanya mengenai PPMI maka kelas PERSMA ini berubah menjadi ajang sharing untuk membahas PPMI.” Ungkap Nanang Yunian Toro mahasiswa LPMT Fenomena UNY yang mengikuti Kongres PPMI ke XII tersebut. “Yang paling penting adalah acara Kongres itu sendiri, acara pertama ialah pembahasan tata tertib, pembacaan kondisi setiap kota, laporan pertanggungjawaban DEN (Dewan Etik Nasional) dan Pengurus Nasional periode 2012-2014, pembahasan AD/ART, pembahasan GBHK & GBHO serta pemilihan SEKJENNAS (Sekretaris Jendral Nasional) dan DEN periode 2014-2016” tambah Nanang. Dalam pemilihan tersebut, Dedi Nur Cahyo mahasiswa LPM Gema Universitas Negeri Surabaya terpilih sebagai SEKJENNAS dan Gibran dari LPM Uap KM Kavling 10 Universitas Brawijaya Malang sebagai Dewan Etik Nasional.

Kongres ini dimeriahkan juga dengan adanya field trip yang di adakan oleh panitia untuk melepas penat setelah kurang-lebih seminggu mengikuti kongres. Field trip tersebut diantara ialah berkunjung ke Museum NTB, Desa Sade, dan Pantai Kuta yang berada di wilayah Lombok Tengah. “Kami juga melakukan bersih-bersih pantai dari sampah sebagai wujud kepedulian kami terhadap lingkungan,” ungkap Aifiatu Azaza Rahmah mahasiswi LPM Pressisi ISI Yogyakarta. Kesan yang dirasakan mahasiswa pun berbeda-beda. Aifiatu menyayangkan keterlambatan delegasi dalam menghadiri acara, “Kegiatan sedikit molor karena beberapa delegasi terlambat datang.” Berbeda halnya dengan yang dirasakan Abdus Somad mahasiswa LPM Poros UAD yang masih menjabat sebagai  BP Advokasi Kota, “Kesan mengikuti kegiatan kongres bagi saya kurangnya kesiapan para peserta kongres dalam mempersiapkan dirinya menghadapi Kongres XII.”

Permasalahan PPMI selama ini berkutat pada pertanyaan “kenapa PPMI tidak maju?”,  “kenapa PPMI tidak dikenal media atau bermanfaat untuk masyarakat?” padahal PPMI sendiri sudah berdiri sekitar 22 tahun. Setelah dirumuskan, ternyata selama ini PPMI belum bisa menentukan sikap untuk maju sebagai wadah gerakan dan membadan-hukumkan PPMI. Setelah didiskusikan ada 2 pilihan PPMI kedepannya akan berbadan hukum di bawah DIKTI atau dengan mencatatkan diri ke NOTARIS dan menjadikan PPMI sebagai wadah gerakan/disederhanakan menjadi wadah komunikasi.(SS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *