“5 Jiwa dalam 1 Rasa”

Yogyakarta – Para mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan Jurusan Tari Institut Seni Indonesia Yogyakarta kembali menghelat sebuah karya di Auditorium Tari. Acara yang digelar Kamis (02/05) merupakan purna studi 5 mahasiswa Penciptaan Program Studi Tari. Konsep acara ini seperti resital – resital tari sebelumnya. Untuk semester ini termasuk resital tari yang dihelat, diselenggarakan tepat pada semester pendek. Gelar resital tari 2014 mengangkat tema 5 Jiwa dalam 1 rasa, menghadirkan 5 orang koreografer muda yang masing-masing mempunyai konsep berbeda, memadukan gerak tubuh dalam satu pagelaran.

Lima mahasiswa yang menempuh tugas akhir ini berasal dari daerah yang berbeda-beda. Sekitar 4 tahun lalu mereka datang dengan semangat tinggi bahkan beberapa diantaranya berasal dari tanah sebrang, merantau menimba ilmu seni di ISI Yogyakarta. Bekal kesenian, mereka hanya bisa menari daerah asalnya.

1
PERSEMBAHAN – (ki – ka) Silvia Yunita, Asri Dwi Hapsari, Pran Radika, Silvia Dewi Marthaningrum, dan Violeta Wosi Permata, Lima mahasiswa yang menempuh tugas akhir mendapatkan cinderamata dari para Dosen dan pejabat rektor, di Auditorium Tari ISI Yogyakarta, Kamis 2 Mei 2014. (rf/13)

Silvia Yunita dengan karya Mucak Pendak menceritakan tentang silat dari Bangka Belitung, Asri Dwi Hapsari dengan karya Alep ing Ngeruji menceritakan gerak ngeruji yang telah lekat dalam tari, Pran Radika dengan karya Ghaseh Batin menceritakan tentang ketika berada pada dua pilihan, terinspirasi dari cerita Puteri Gunung Ledang, Silvia Dewi Marthaningrum dengan karya Pelita Senja menceritakan tentang kecintaan pada budenya, dan VioletaWosi Permata dengan karya Putrefaction menceritakan konsep lain tentang Zombie, gerak-gerak Zombie yang dibawakan kedalam suatu pertunjukan tari.

Pimpinan Produksi, Punyk Angeline menjelaskan bahwa karya-karya tari ini merupakan karya lanjutan yang sudah pernah dibawakan sebelumnya. “Istilahnya, mereka tinggal mematangkan, tinggal membawa kembali yang sudah ada, diolah dan dikembangkan menjadi satu garapan tugas akhir yang memang menurut mereka sudah matang. Prosesnya pun cukup lama, sekitar 6 bulan,” Papar Angeline.

Ia menambahkan bahwa karya tugas akhir ini tidak lepas dari bantuan para mahasiswa jurusan tari dari angkatan berbeda. “Bagaimana pun mereka tetap tidak bisa berjalan sendiri, pastinya proses dalam suatu pertunjukkan tidaklah mudah. Banyak yang harus difikirkan dan dipersiapkan.”

Dalam suatu pertunjukkan semua pasti ada kendalanya. “Menurut persepsi saya, suatu pertunjukkan tidak akan berjalan ketika tidak ada halangan. Ya ibaratnya ini sebuah medan, bagai manapun kita harus tetap berjalan, tetap struggle.” Tandasnya sebelum kembali mempersiapkan pertunjukan resital tari pada malam itu. (SS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *