Festival Film Solo 2014 Fiksi-Pendek-Indonesia

Film pendek seharusnya menjadi garda terdepan sinema Indonesia. Medium ini tidak tersentuh oleh gunting sensor, tidak juga terbebani oleh kebutuhan pasar. 

Solo Sejak 7-10 Mei 2014, perhatian pegiat film pendek Indonesia akan tertuju ke Solo. Pasalnya, di tanggal itu Festival Film Solo (FFS) 2014 resmi digelar. Bertempat di Teater Besar Institut Seni Indonesia Surakarta dan Taman Budaya Jawa Tengah.

Festival ini pertama kali diinisiasi oleh Ricas CWU, Bayu Bergas dan Joko Narimo pada tahun 2011. Festival film yang rutin dihelat setiap bulan Mei ini dimaksudkan fokus pada perkembangan film fiksi-pendek Indonesia melalui program pemutaran dan forum publik. Festival Film Solo dinobatkan  sebagai ruang temu yang akrab, sederhana, ramah dan terbuka luas bagi para penonton dan pelaku perfilman nasional.

Direktur Festival, Ricas CWU mengatakan bahwa komitmennya selaku pengelola adalah terus berusaha agar menjadi rumah bagi film fiksi pendek tanah air. Rumah dimana film mendapatkan porsinnya untuk diobrolkan secara leluasa. Rumah dimana penghuninya dapat berinteraksi dengan penghuni lainnya. Rumah dimana film fiksi pendek tahu kemana ia harus pulang, “FFS ini, satu ruang khusus untuk film fiksi pendek. Kalau kalian mengikuti beberapa festival, ada film pendek dan film panjang, nah di FFS ini hanya khusus film fiksi pendek.” tuturnya saat diwawancarai setelah acara pembukaan FFS, Rabu malam (07/05).

Penghargaan tertinggi kompetisi dalam FFS adalah Penghargaan Ladrang dan Penghargaan Gayaman. Penghargaan Ladrang untuk Kategori Umum-Nasional yang merupakan perayaan bagi pegiat film secara umum. Sedangkan Penghargaan Gayaman untuk Kategori Pelajar-Nasional yang merupakan perayaan bagi film muda. Muda yang mengartikan energi dan semangat, namun di lain pihak juga berarti keluguan dan kegalauan akan masa depan. Kedua penghargaan tersebut mewujud dalam bentuk Keris Pusaka Ladrang dan Keris Pusaka Gayaman, yang ditempa secara khusus oleh Mpu Yohanes Yantono.

Jika pada tahun lalu FFS tidak menggunakan tiket atau bisa dikatakan tidak dipungut biaya, maka pada tahun ini FFS mulai menggunakan tiket berbayar kepada public yang ingin menonton sesi pemutaran utama. Alasannya sederhana, yaitu untuk mengajak penonton untuk ikut mendukung keberlanjutan para pembuat film agar terus berkarya. Nominalnya tidak seberapa, hanya Rp 5000,- (Lima Ribu Rupiah) setiap sesi-nya. Inilah salah satu bentuk apresiasi kepada mereka, si pembuat film. “Ya ini akan menjadi satu penghargaan menarik, bagaimana penonton mengapresiasi film pendek.” kata Ricas CWU menambahkan.

Festival ini hadir dengan dukungan penuh dari perorangan dan kelembagaan yang memiliki kebutuhan dan energi yang sama akan perfilman tanah air, khususnya semesta film pendek. Dalam perjalanannya, festival ini  tumbuh sebagai festival kelas warga, festival yang terbuka untuk diakses dalam hal di luar film sekalipun dan sangat memungkinkan siapapun untuk terlibat di dalamnya. (SS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *