Pemimpin Nan Pandai Menulis

Oleh: Arif Budiman

 

Sehebat-hebatnya orang

Jika ia tidak menulis

Ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah

Menulis adalah bekerja untuk keabadian

 

Pramudya Ananta Tour

Hanya sedikit pemimpin yang mampu menuliskan pikiran/pemikiran mereka. Entah itu ditingkat pemerintahan/eksekutif, partai politik/legislatif, organisasi masyarakat. Tak usah jauh-jauh yang dekat dengan kita saja organisasi kampus ada; rektor, dekan, ketua jurusan, para pembantu/wakil, dlsb. Ada juga para pemimpin dikalangan organisasi mahasiswa ada Badan Legislatif Mahasiswa (BLM), Badan Eksekutif Mahasiswa Institut (BEM), BEM Fakultas, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), para punggawa Pressisi-pun, yang pede dijuluki agent of change pun ada yang tak mampu menuliskan pikiran/pemikirannya — bahkan diantara mereka hanya pandai bicara atau orasi. Jelas, tafsiran apa yang dibicarakan akan beragama, bisa jadi miss communication, tak nyambung.

Tapi yang agak miris juga, ada dikalangan para doktor di lingkungan kampus yang juga tak pernah menulis – untuk kepentingan publik, apa itu di surat kabar (cetak atau online), jurnal, majalah dan lain sebagainya. Menulis ada tapi disertasi. Padahal gelar doktor adalah gelar paling tinggi di level pendidikan akademi. Diberikan pada seorang yang dinilai telah menemukan sesuatu sesuai dengan bidang telitiaanya atau keahliannya. Tapi, masih ada juga yang belum mampu menuliskan pikirannya. Mungkin doktor stuktural. Dapat gelar doktor untuk menempatkan diri di struktural dan meninggikan tunjangan, entahlah…

Kembali lagi, menulis adalah salah satu tradisi intelektual yang baik — masalahnya tak otomatis semua mereka yang memiliki formalitas intelektual seperti; sederet gelar akademis, atau posisi penting dalam organisasi mampu menuliskan pikiran/pemikirannya. Termasuk pemimpin dikalangan mahasiswa, dengan masa yang dirangkulnya, apakah pemikiran yang ia sampaikan bisa dipahami oleh masanya tersebut?.

Menuliskan pikiran/pemikiran memiliki beberapa keistimewaan: keterlatihan menuangkan pikiran/pemikiran yang tersusun/terstruktur dalam tulisan merupakan salah satu dari keunggulan intelektual. Akan sangat berbeda, bilamana mereka yang secara formalitas adalah seorang pemimpin yang lebih terlatih berbicara/berpidato. Yang lebih baik, bilamana mampu keduanya: mampu menyampaikan pikiran/pemikiran melalui berpidato/orasi/berbicara, dan mampu menuliskannya.

Mungkin yang lebih banyak yang ditemui, mereka yang pandai berbicara — walaupun kadang berlepotan, dan membacakan apa-apa yang akan dipidatokannya yang dituliskan orang lain untuknya.

Yang menyedihkan, ada pemimpin organisasi yang memandang dirinya seorang intelektual dan menampilkan tulisan — ditulis (by line) atas namanya — yang dibuatkan orang suruhan atau stafnya untuknya. Masih ada gak dikampus kita yang seperti ini?

Karena itu, kita akan sangat mengapresiasi dan menghargai kalau ada pemimpin yang memiliki salah satu dari tradisi intelektual: menuliskan pikiran/pemikiran. Karena melalui tulisan itu kita dapat membaca, mengetahui, dan memahami pikiran dan jalan pemikiran, dan riwayat pemikirannya — bahkan corak-warna pemikirannya. Pun terlebih ia pandai berbicara/orasi, akan lebih kuat.

Ada berapa banyak pemimpin publik, tokoh organisasi kemasyarakatan, politisi atau pengurus partai, bahkan pejabat publik, yang betapa pun amat sangat sibuk disiksa rutinitas tugas formalitasnya, toh beliau masih sempat menuliskan pikiran/pemikirannya.

Untuk Indonesia, kita mengenal banyak sekali para pemimpin/politisi/pejabat yang menulis. Sebutlah hampir semua tokoh pergerakan/pejuang kemerdekaan Indonesia yang mampu menulis — menulis buku dan pembukuan karya tulis/artikel/catatannya.

Sebutlah saja Tan Malaka, Agus Salim, Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir, M. Yamin, Mohammad Natsir, Saifuddin Zuhri atau Haji Abdul Karim Abarullah (Hamka) — adalah di antara yang jadi penulis yang hebat dimasanya. Menulis memang menjadi sebuah tradisi yang tak terbantahkan lagi. Bahkan menjadi sejatan yang lebih tajam, ampuh dari bambu runcing, yang seakan agak konyol disebut-sebut persenjataan yang membuat Indonesia bisa merdeka.

Kalau di dunia, sebutlah saja Presiden Anwar el-Sadat yang mempunyai kolom tetap di suratkabar Al-Ahram. Kumpulan tulisannya, antara lain, dikenal di Indonesia buku “Kemarau Kemarahan”.

Mantan Presiden AS yang kesohor, John F Kennedy dan Franklin D Roosevelt, misalnya, adalah juga penulis. Sebetulnya tidak aneh, karena sebelum menjadi presiden, keduanya pernah jadi wartawan suratkabar The Harvard Crimson, suratkabar mahasiswa Universitas Harvard (diterbitkan pertama kali 1873), harian yang terbit di Cambridge Massachusetts/dikelola sepenuhnya oleh mahasiswa tingkat sarjana Harvard College.

Begitu halnya dengan mantan perdana menteri (PM) Inggris Raya yang kesohor dan fenomenal, Wiston Leonard Spencer Churchill, yang sebelum jadi PM pernah jadi jurnalis dan penulis memoar yang berpengaruh. Churchill penulis yang produktif. Ia menerima Hadiah Nobel Sastra (1953), dan dianugerahi hadiah untuk penguasaan deskripsi sejarah, biografi, dan untuk pidato cemerlang dalam mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang mulia. Ia menulis buku The Story of Malakand Field (1898) dan Perang Sungai(1899). Pernah bekerja sebagai koresponden perang bagi Morning Post. Karena melaporkan Perang Boer Afrika Selatan ia ditawan, dan membuat berita utama saat melarikan diri. Sekembalinya ke Inggris, ia menulis tentang pengalamannya itu dalam buku London ke Ladysmith (1900).

Baru-baru ini juga diangkat salah satu menteri di republik ini dari seorang penulis juga. Dahlan Iskan, Menteri BUMN yang baru juga seorang penulis. Sebelum jadi menteri, mantan Dirut PLN ini adalah seorang wartawan. Ia sering kali menuliskan pikiran/pemikiran dalam surat kabar. Jelas ini akan sangat memudahkan ia dalam berkomunikasi dalam bahasa tulis ketika ia ingin menyampaikan pikiran/pemikiran dalam ruang kerjanya sebagai menteri kepada staf-nya atau masyarakat. Tak putus, dengan bicara jelas menulis alternatif yang lebih tajam.

Proses fit and proper test calon Ketua KPK juga melalui media tulisan. Baru-baru ini mereka diuji di gedung DPR dalan hitungan jam harus bisa menuliskan pokok pikiran/pemikiran di media tulisan (makalah).

Benar apa yang dikatakan Pramudya Ananta Tour, tak cukup hanya bermodal kehebatan/kepandaianya saja. Menulis juga menjadi hal penting, karena inilah kedepannya bukti otentik/ril/nyata ia bisa dikatakan hebat ketimbang hanya bermodal omongan menjadi orang hebat… (***)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *