Ribuan Pendaki Tumpah Ruah 17-an di Puncak Merapi

Boyolali – Merapi dengan ketinggian 2968 mdpl merupakan tujuan favorit pecinta alam untuk merayakan kemerdekaan. Pasalnya, keaktifan gunung ini menjadi sorotan banyak pihak. Sekitar 5000 pendaki memadati lereng Merapi, Boyolali, Jawa Tengah untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-69, Minggu (17/08)

Upacara bendera digelar di Pasar Bubrah, 400m dari Puncak Merapi tepat pada pukul 07.00 WIB. Kegiatan rutin setiap 17 Agustus ini dikoordinir oleh tim relawan BARAMERU dan SENKOM Mitra Polri yang berpartisipasi dalam penjagaan pendakian Merapi.

Para pendaki berasal dari berbagai daerah di Indonesia, berbagai kalangan seperti pelajar/mahasiswa, anak muda, orang dewasa yang suka backpaker dan bahkan keluarga yang tak enggan mengajak serta anaknya yang masih usia SD.

Komando upacara, Agung Triyanto dari Senkom mengatakan bahwa tahun ini merupakan pendakian terbanyak sepanjang masa. “Biasanya tidak sampai 1000, tetapi tahun ini lebih dari itu, padat merayap sepanjang jalan,” katanya saat diwawancara usai upacara.

Meskipun sebelumnya sempat beredar berita larangan mencapai puncak Merapi, tak menyurutkan semangat para pendaki untuk berdiri mengibarkan sang saka di kaki langit. Agung meyakinkan, “Sekarang kita buktikan bahwa sebenarnya Merapi itu aman, bisa dilihat sendiri pencapaian puncak dengan jelas. Selama kita mengikuti prosedur, kegiatan ini aman.”

Pihaknya menambahkan, letusan Merapi pada tahun 2010 lalu, adanya gejolak di puncak tetap menunjukkan pendakian aman, terbukti dengan adanya wartawan luar yang naik via New Selo untuk mengambil gambar dari Pasar Bubrah. “Karena Merapi tipenya vulkano, lelehan larva, bukan semburan atau muntahan. Jadi yang perlu diantisipasi adalah awan panas/wedus gembelnya. Ya kalau arah angin normal, secara umum akan aman,” tandasnya,

Tak jauh berbeda dengan Udin, salah seorang pendaki yang berhasil mencapai puncak Merapi, mengatakan bahwa tahun ini memang tidak seperti biasanya. “Semua gunung dulu sepi, tidak seramai sekarang. Peningkatan jumlah pendaki ini mungkin gara-gara film gunung yang belum lama beredar.” terangnya sambil tertawa.

Pendaki yang sudah delapan kali muncak Merapi itu mengaku, hambatan menanjaki Gunung Merapi adalah medan yang sempit, rawan batu lepas serta rawan longsor. Namun hal itu sama sekali tak membuatnya takut. “Saya terakhir ke Merapi tahun 2004 dan sejak erupsi belum pernah ke sana lagi, jadi saya penasaran dengan perubahan puncaknya. Rasa takut kalah dengan rasa penasaran.” tegasnya.

Para pendaki beserta rombongan berpesan, Jangan sampai meninggalkan sampah dan merusak alam di atas sana. Jadilah pendaki sejati, bukan hanya penikmat alam belaka. Salam Lestari. Salam Pendaki. (SS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *