ISI Yogyakarta Dapat Kesempatan Tampil di SIPA 2014

Solo – Pagelaran Solo International Performing Arts atau yang sering disingkat SIPA, tahun ini digelar pada bulan ke Sembilan. Tepatnya pada tanggal 11-13 September 2014, selama tiga hari berturut-turut, SIPA telah meramaikan Benteng Vastenburg Solo.

Dengan mengangkat tema “Generation Of World Culture” menghadirkan Yang Mulia Tunku Atiah sebagai Maskot SIPA 2014 diiringi arak-arakan dan tarian oleh Semarak Candrakirana Art Center. Generation Of World Culture mengartikan bahwa Kota Solo sebagai pembelajaran budaya melahirkan generasi-generasi baru dalam semangat bersama melestarikan budaya di mata dunia.

Opening Ceremony SIPA 2014 ditandai dengan dipukulnya Saron oleh Walikota Solo FX Hadi Rudiatmoko, Ketua SIPA 2014 Irawati Kusumorasri, Direktur Utama Semen Indonesia Dwi Sutjipto, M. Ahman Sya (Direktorat Jendral Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif – Dirjen EKSB Kemen Parekraf), serta didampingi oleh Vyacheslav Tuchnin (Konselor Kedutaan Besar Rusia) juga Aria Bima (perwakilan Kementrian Pemuda dan Olahraga – Kemenpora).

Jika pada tahun-tahun sebelumnya, SIPA hanya menghadirkan penampil dari kalangan Internasional, maka tahun ini SIPA juga menghadirkan penampil dari Institusi Negeri, salah satunya Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Sepuluh penari dari ISI Yogyakarta membawakan tarian Wisayawisa yang menceritakan sosok Rahwana.

Wisayawisa merupakan sebuah karya tugas akhir mahasiswa Prodi Tari ISI Yogyakarta yang mendapat penilaian terbaik untuk mengisi SIPA 2014. Tarian ini digarap oleh mahasiswa Tari angkatan 2007, Erry Novia dengan iringan music karawitan oleh Anon Suneko. Paduan tari dan karawitan inilah yang seyogyanya menjadikan Wisayawisa sebagai karya penuh makna.

Erry Novia Hermawan Sutejo, penggarap tari Wisayawisa memaparkan bahwa tarian ini menceritakan sepuluh karakter Rahwana yang terkenal dengan keburukannya. Namun dibalik karakter Rahwana yang buruk, ada satu karakter baik yang selama ini tidak diketahui masyarakat pada umumnya. Hal itulah yang menjadi tujuan Erry membawakan Wisayawisa dengan mengenalkan karakter Rahwana lebih dalam. “Rahwana memang terkenal buruk tapi ada satu kebaikan yang tidak dimiliki tokoh lain yaitu kesejatian diri, kesejatian cintanya pada Widowati/Shinta.”

Erry bangga membawa nama ISI Yogyakarta dalam pagelaran SIPA 2014. Dia sebagai calon Sarjana Seni, khususnya Seni Tari berharap agar karya tari tetap dikenal, menjadi perhatian kebudayaan, dan tetap dipandang di mata dunia. “Saya sih berharap, tari diangkat di tingkat apapun, tidak hanya di tingkat lokal maupun nasional tapi bisa Go International.” tandasnya.

Closing Ceremony SIPA 2014 pada Sabtu malam ditandai dengan pemukulan Saron oleh Dirjen Berbasis Media Desain Hari Waluyo didampingi oleh Walikota & Wakil Walikota Solo, FX Rudiatmoko & Ahmad Purnomo, serta Marketing Komunikasi Semen Indonesia Novita Kartikaningrum. (SS/VN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *