Festival GSAP #2 – Jaune dan Isrol Medialegal dalam Artist Talk-nya

Diskusi seniman dengan narasumber seniman jalanan Jaune (Belgia) dan Isrol Medialegal diadakan di Galeri Soetopo Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Selasa (14/10). Ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dari Festival Geneng Street Art Project (GSAP) #2 yang telah dibuka pada 1 Oktober 2014 lalu di Ruang Kelas SD dusun Geneng. Diskusi ini dibuka oleh Andono selaku Pembantu Dekan III Fakultas Seni Rupa serta dimoderatori oleh Rain Rosidi yang sekaligus sebagai kurator Festival GSAP #2. Acara dengan tajuk Artist Talk ini dihadiri oleh mahasiswa ISI dan juga beberapa seniman dari luar institusi, seperti Farhan Siki, Adit Here-Here, Andri Antitank.

Artist Talk ini diawali oleh Isrol atau dijalanan lebih dikenal sebagai Isrol Medialegal. Dalam presentasinya Isrol membicarakan mengenai awal dan berkembangnya suatu nama Medialegal. Awalnya, Medialegal adalah sebuah label record music punk di Bekasi pada tahun 2003. Dimulai dengan nongkrong dan berkarya akhirnya Medialegal merilis sebuah album caset. City Chaos dan Patlabor adalah dua band punk asal Bekasi sebagai pelakunya. Dari beberapa teman pemusik ada beberapa diantaranya yang merupakan perupa. Pada akhirnya mereka juga membuat merchandise berupa kaos, tas, emblem, dan lainnya. Zine adalah karya rutin mereka. Tahun 2006, medialegal mulai membuat karya-karya Street Art berupa stencil, baliho, dan mural. Karya-karya medialegal seringkali mengangkat isu sosial dan lingkungan di masyarakat. Pada karya-karya tersebut Medialegal sering kali membawa kalimat-kalimat kritis seperti “Boneka Metropolis”, “Alam Raya Sekolahku”, “Menimbang Upah Di Ladang Setan”, “Pantang Pulang Sebelum Menang”, dan “Jaga Tanah Ini Sebelum Semua Menjadi Seperti Ibukota”.

Teknik yang dipakai Isrol dalam karyanya adalah teknik stencil atau memotong pola pada kertas lalu disemprot menggunakan spray paint pada bagian yang berlubang. Menurut Isrol, teknik tersebut sangat efektif , karena bisa dipakai kembali pada media apapun. Dalam menaruh karyanya di tembok jalanan, Isrol melakukan observasi dan jarang untuk meminta ijin terlebih dahulu. “Kondisi ini di jalanan, maka diselesaikan di jalanan pula,” ungkap Isrol yang saat ini tinggal dan aktif berkarya di Yogyakarta.

Seniman dari luar negeri, Jaune asal Brussels, Belgia. Di jalanan, ia menggunnakan teknik stencil dalam membuat karya-karyanya. Trashman adalah objek yang selalu ia tampilkan. Baginya, Trashman adalah orang kecil atau masyarakat kecil yang dipandang sebelah mata. Pada karyanya ia membuat para trashman sebagai tokoh protagonis yang memiliki peran penting dalam pembangunan. Mereka adalah orang penting yang terabaikan. Mereka memakai seragam orange dan hijau. “Seandainya mereka berhenti bekerja, maka semua akan berakhir,” tutur Jaune saat diskusi berlangsung.

Jaune datang ke Indonesia khusus untuk mengerjakan karya di FGSAP #2. Dulunya, Jaune pernah bekerja sebagai tukang bersih-bersih. Pengalaman tersebut yang menjadi ide dasar Jaune dalam berkarya. Karya-karya Jaune terbilang cukup besar dan monumental. Seringkali ia harus izin pemilik bangunan terlebih dahulu sebelum membuat karya. Jaune sendiri mengganggap kalau Street Art itu legal. Walaupun media masa jarang membicarakan mengenai Street Art, namun di Belgia Street Art mulai diterima di masyarakat dan mendapat apresiasi yang baik dari masyarakat kota. Selain itu jaune juga aktif di acara Festival Seni lukis dan terlibat pada pameran-pameran yang sifatnya kolektif maupun solo.

Diskusi Artist Talk ini berlangsung cukup interaktif antara narasumber dan audience dengan adanya saling tanya jawab sehingga memberi pengetahuan baru mengenai seni rupa khususnya street art. Selain itu, wacana dan diskusi tersebut, acara ini juga menjual merchandise berupa kaos yang didesain oleh para peserta GSAP #2 juga memamerkan karya-karya seni rupa. Hasil penjualan kaos tersebut nantinya akan didonasikan untuk festival selanjutnya. Acara ini diakhiri dengan foto bersama dengan panita, seniman, peserta, dan media masa yang turut meliput. (BA, 2012)DSC_0559

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *