Menutup Kampus, Menutup Kreativitas

Yogyakarta – Peristiwa hilangnya sejumlah perangkat komputer dari Jurusan Seni Murni – Intitutut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta rupanya menuai hal baru. Pasalnya, kejadian tersebut merupakan latar belakang utama dibuatnya kebijakan ‘menutup kampus’ pada malam hari. Para pejabat ISI percaya bahwa dengan adanya kebijakan ini, orang-orang yang keluar masuk wilayah fakultas dapat diawasi sehingga memperkecil kemungkinan tindak pencurian. Namun, tidak demikian dengan pendapat sebagian besar mahasiswa.

Seperti yang selama ini kita ketahui, kampus bagi mahasiswa ISI tidak hanya berfungsi sebagai tempat kuliah, namun juga tempat berkarya, dan berdiskusi. Pola pikir kreatif mahasiswa lahir dengan cara ini. Oleh karena itu, kebijakan menutup kampus seolah secara tidak langsung menutup jalan mahasiswa menuju pola pikir tersebut. Menutup jalan berkarya. Menutup jalan berdiskusi, bahkan bisa jadi sampai menutup kreativitas mahasiswa. Sebagai Institut Seni, bukankah kreativitas merupakan aset utama yang harus dijaga?

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Seni Murni juga menyuarakan protesnya mengenai hal terkait. Protes tersebut disalurkan melalui sebuah pameran kreatif yang berlangsung sejak tanggal 27 – 29 April 2015. Pameran tersebut didukung oleh segenap mahasiswa seni rupa dan mahasiswa ISI Jogja secara umum.

Andre Tanama, salah satu dosen Fakultas Seni Rupa turut angkat bicara mengenai prihal ini.

“Kampus lebih rela kehilangan mahasiswa daripada kehilangan komputer.” Tegasnya pada pembukaan pameran “Membaca Kampus” Senin, 27 April 2015 lalu. Menurutnya, pameran yang digelar di gedung Ajiyasa tersebut sangat inspiratif.

“Kalau segala kebijakan yang ada di kampus ini tidak dikritisi, ya kita kayak robot.” Katanya. Beliau mengaku akan sangat menyayangkan bila pameran tersebut tidak dihadiri oleh dosen atau para pejabat kampus.

Teks: Arami Kasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *