Melihat Ekspresi Cinta Alam lewat Pameran “Suara Alam”

YOGYAKARTA—Pembukaan pameran yang bertajuk Suara Alam pada tanggal 13 Juni 2015 telah sukses dilaksanakan. Pameran yang membutuhkan waktu persiapan selama 3 bulan ini dilangsungkan di Omah Alas, Jl. Nitiprayan, Kasihan, Bantul akan terus berlangsung hingga tanggal 13 Juli 2015. Menurut Johan Nes selaku ketua panitia, pameran ini diadakan oleh anak-anak tongkrongan yang meliputi mahasiswa ISI Yogyakarta seperti HMJ Seni Rupa dan seniman luar yang memang sering berkumpul di Omah Alas. Menurutnya, meskipun awalnya hanya sebagai tempat nongkrong, namun sebagai seniman mereka merasa harus mengadakan suatu event seni di tempat yang “apa adanya” ini.

Judul “Suara Alam” sengaja dipilih untuk melaksanakan pameran ini karena manusia pada hakikatnya hidup di alam yang lebih dari sekedar hewan dan tumbuhan, tapi juga kepercayaan dan agama. Pameran ini dimotori oleh 28 panitia merangkap peserta hingga total peserta ada 32 orang, yang menghasilkan 29 karya, termasuk di dalamnya karya kolaborasi.

Pameran dibuka dengan sambutan dari Bayu Wardana selaku kurator dan sambutan dari Johan Nes selaku ketua panitia. Setelah pembukaan, peserta diberikan waktu 40 menit untuk menyaksikan karya yang dipamerkan sambil dihibur dengan penampilan dari band Dendang Kampungan dan band yang diisi oleh panitia pameran. Setelah itu, berturut-turut ditampilkan pembacaan puisi oleh Sasmita Wulandari, Aliem Bachtiar, dan Joko Gundul.

Bayu Wardana selaku kurator berpendapat bahwa pameran ini menarik karena diawali dari rasa kepedulian pada alam yang tinggi oleh panitia. Ia pun mengaku bahwa tidak menggunakan formalis karya seni untuk mengurasi, tapi dengan mengurasi konsepsi secara keseluruhan. “Jadi saya ngobrol dengan mereka, besenda gurau, bercanda, dan ternyata saya menemukan bahwa jauh di dalam diri seseorang mempunyai keterikatan dengan alamnya.” Bayu juga berpendapat bahwa tidak ada karya yang ia anggap jelek dalam pameran tersebut. “Semua karya itu bagus kok, tidak ada yang jelek. Cuma, tergantung apakah kita bisa menikmatinya atau tidak, karena cara orang menikmati karya itu sangat relatif.”

 

Teks          : Fitriana

Foto          : Aifiatu Azaza Rahmah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *