Punk dan Sepatu Roda dalam Romeo dan Juliet

IMG-20160411-WA0011 IMG-20160411-WA0013 IMG-20160411-WA0015 IMG-20160411-WA0012 IMG-20160411-WA0014

Hari Sabtu tanggal 9 April 2016 lalu, mahasiswa jurusan Teater menyelenggarakan  pentas “Romeo dan Juliet” di Gedung Auditorium Teater ISI Yogyakarta. Uniknya, mahasiswa semester 6 tersebut membawakan pentas tersebut dengan memakai sepatu roda dan bergaya punk.

Karya tersebut sebelumnya pernah dipentaskan beberapa bulan lalu namun sebagai ujian mahasiswa teater dengan konsentrasi keaktoran. Tapi rencana untuk membawa teater ini ke pentas umum sudah direncanakan sejak awal. Para pemain membutuhkan waktu dua bulan untuk latihan guna pentas internal dan 3 bulan untuk pentas umum, mereka juga punya rencana untuk mementaskan teater ini di TBY agar lebih banyak masyarakat luas yang dapat menonton teater ini.

Romeo dan Juliet dipilih karena merupakan cerita klasik barat karya William Shakespeare sehingga cocok dengan mata kuliah yang diujikan, yaitu mata kuliah acting non realis. Dari gagasan dosen, cerita tersebut kemudian dikemas dengan gaya punk dan memakai sepatu roda dengan tujuan memberi nuansa baru pada pementasan teater ini.

Keputusan tersebut menimbulkan persoalan antara lain perbedaan mengenai gaya dialog yang semula non realis dibawakan secara punk dan kesulitan dalam menggunakan sepatu roda. Mengenai sepatu roda, semua pemain berlatih dari nol  dengan melihat tutorial dari Youtube. Ada beberapa pemain yang cepat belajar dalam bersepatu roda, ada pula yang lambat. Salah satu yang lambat dalam belajar bersepatu roda adalah Lala yang berperan sebagai Inang. “sempat nangis waktu awal latihan, teman-teman yang lain sudah bisa tapi aku belum. Tapi lama-lama bisa apalagi dapat dukungan dari teman-teman” tutur Lala.

Para pemain yang terdiri dari Misbahurrohim sebagai Romeo, Birgita Yuniarti sebagai Juliet, Galuh Endang sebagai Nyonya Capulet, Ibrahim sebagai Capulet, Nianda Operasella sebagai Inang, Tazkiyatun Niyah sebagai Tybalt, Sri Astriyani sebagai Mercutio, Akas Jatmiko sebagai Escalus, Pasa Deparaga sebagai Lorenzo, Dwi Ersa sebagai Benvolio, Alfath sebagai Paris, dan Estrinuri sebagai Narator ditentukan perannya oleh  Rano Sumarno, M.Sn yang menjadi dosen pembimbing sekaligus sutradara pentas teater tersebut.

Pada saat tampil di depan penonton, Lala merasa detak jantungnya berdegup kencang karena pentas memakai sepatu roda merupakan hal yang baru baginya. Hal itu juga dirasakan oleh pemain lain. Sering juga terjadi kesalahan yang membuat penonton tertawa. “waktu jatuh gara-gara kehilangan keseimbangan itu deg-degan banget apalagi ditambah ditertawain penonton, tapi yaudahlah pentas harus tetap jalan. Rock n rollan aja” tutur Lala.

Selesai pentas, semua pemain merasa lega. Semua rasa bercampur mulai dari rasa bebas, tak percaya, senang, dan lain sebagainya. Namun menurut Lala masih ada yang menggelisahkan hatinya yaitu komentar para penonton di media sosial. Karena menurutnya orang-orang kini bebas berpendapat apa saja di media sosial.

Foto dan Teks oleh Faiz

Satu pemikiran pada “Punk dan Sepatu Roda dalam Romeo dan Juliet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *