Hari Pertama Symposium Creativity and Art Studies Penuh Pembicara Krusial

PEMBICARA
PEMBICARA – Sesi pertama simposium menghadirkan pembicara-pembicara yang terdiri atas (dari kiri ke kanan) Manu W.P. Wangsawikrama, MA, merupakan Dosen Jurusan Sastra Nusantara di Uinersitas Gadjah Mada, Prof. Tony Day, Senior Lecturer di Humanities Division Yale-NUS College, Singapura, dan Dr. Timbul Raharjo sebagai moderator. FOTO/ Fitriana

Senin, 23 Mei 2016, Symposium Creativity & Art Studies diselenggarakan. Terdapat dua sesi acara dalam Symposium Creativity & Art Studies, yakni seminar Creativity & Art Studies yang dibuka pukul 9 pagi bertempat di Ruang Rapat 3 Gedung Rektorat, dan performing art session pada hari pertama yang dibuka pukul 19.00 WIB di Gedung Concert Hall.

Pembicara-pembicara pada seminar Creativity & Art Studies didatangkan lewat sebuah jaringan pertemanan, di antaranya ada Prof. Tony Days yang membawakan presentasi bertema “Creativity and Identity in the Arts of Modern Indonesia”, Manu W.P. Wangsawikrama dengan presentasi “Srsti Sebuah Studi Filologi Penciptaan Silpavidya Menurut Natyasastra Bharatamuni dalam Tradisi Sastra Jawa Kuna dan Sansekerta”, Dr. Koes Yuliadi dengan tema presentasi “Merajah Rangda, Menubuhkan dan Membaca Kembali Calon Arang, dan Atilah Soeryadjaya,seorang koreografer dan direktor dalam pementasan seni Matah Ati di Singapura. Mereka bersedia untuk tidak dibayar sebagai pembicara dalam acara ini karena mengganggap bahwa acara tersebut adalah sebuah wadah bagi mereka untuk membagikan ilmu kajian dan penciptaan kepada mahasiswa Institut Seni  Indonesia Yogyakarta.

Timbul Raharjo selaku moderator menjelaskan bahwa acara ini dilakukan dengan tujuan melakukan sebuah kajian dari orang-orang yang sudah lebih dulu melakukan sebuah pengkajian dan penciptaan . “Kalau sudah ada niat melakukan sebuah pembelajaran dari pembicara-pembicara tersebut, otomatis kita akan memiliki beragam macam masukan terhadap diri kita sendiri, seperti  apa yang harus kita lakukan jika ingin membuat sebuah pengkajian karya seni maupun menciptakan sebuah karya seni,” ujarnya

TARIAN – Grup Tari Najombang sedang membawakan tarian berjudul “Sarikai” yang berasal dari kata “sarikat” atau perkumpulan. Grup ini terdiri dari anggota keluarga marga Mefri, yaitu Angga Mefri (tengah), Rio Mefri, Intan Mefri, Riri Mefri, Gitra Miranda, dan Ery Mefri selaku koreografer. FOTO/ Fitriana

Malamnya, acara dilanjutkan dengan sebuah pegelaran seni  yang bertempat di Concert Hall, Institut Indonesia Yogyakarta. Pelaku pegelaran seni dalam acara ini adalah grup Tari Najombang, yang membawakan sebuah tarian bernama tarian Sarikai. Sarikai bercerita tentang suatu perkumpulan masyarakat yang melakukan musyarah untuk mencapai sebuah mufakaat, namun sayangnya musyawarah masa kini seringkali memunculkan perpecahan yang terjadi di dalam kumpulan tersebut dan gagal mencapai mufakat. Tarian ini uniknya tidak diiringi dengan music dan hanya mengandalkan suara teriakan, lolongan, dan nyanyian dari mulut pemainnya, serta suara  entakan kaki, tangan, dan kain celana. “Menurut koregrafer kami, Eri Mefri, musik terlahir dari tubuh seorang penari. Teriakan kesakitan kita   tidak mungkin disuarakan oleh orang lain. Itu sebabnya kita sebagai penari juga merangkap sebagai pemusik,” jelas  Angga Mefri selaku penari Tari Sarikai yang juga adalah istri dari koreografer Eri Mefri di belakang penggung.

 

Penulis : Nurrul Nelwan / TV 2015, Foto : Fitriana / Foto 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *