Symposium, “Sentilan” untuk Kampus

Foto 1
SYMPOSIUM – Para materi Symposium Creativity & Art Studies di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.(24/05). Lembaga Peneliti dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ISI Yogyakarta dan LP2SPI menyelenggarakan Symposium Creativity & Art Studies bertujuan utuk mewadahi gagasan penciptaan dan kajian atas seni. FOTO/Afi Bantilan

Sebuah acara yang bertajuk Symposium Creativity & Art Studies bertema “Menumbuhkan hasrat kreatif, musik tradisi, pasar, dan media” yang diinisiasi oleh mahasiswa Jurusan Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan angkatan 2012, di antaranya Jibrilla Oktaviela Islamey Herwan sebagai Ketua Pelaksana. dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Acara simposium yang bertempat langsung di Gedung Rektorat lantai 3 dan Concert Hall Institut Seni Indonesia, Yogyakarta berlangsung selama dua hari yaitu pada 23-24 Mei 2016. Pada hari kedua, acara dimulai dengan penyampaian materi oleh Prof. Sarah Weiss dengan presentasi tentang “Contemplating the Differences between Preserving and Sustaining the Performing Art”, Dr. Citra Aryandari dengan presentasi “EDM dalam Jejak Langkah Ruang-Waktu”, dan Idang Rasjidi tentang “Jazz: Kebebasan tanpa Batas”.

SYMPOSIUM – Perform di acara Symposium Creativity & Art Studies di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.(24/05). Bapak Idang Rasjidi seorang musisi Jazz membuat perform dadakan pada saat beliau selesai menyampaikan materinya. FOTO/ Afi Bantilan
SYMPOSIUM – Perform di acara Symposium Creativity & Art Studies di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.(24/05). Bapak Idang Rasjidi seorang musisi Jazz membuat perform dadakan pada saat beliau selesai menyampaikan materinya. FOTO/ Afi Bantilan

Pada pukul 19.00 WIB, acara dilanjutkan dengan dengan arts session oleh pengisi acara berupa dance performance dan music performance dari Rubah di Selatan, Kadjanga sebagai pembuka, dan pertunjukan utama oleh Idang Rasjidi “Red Code”. Menurut Jibrilla sendiri, Symposium Creativity & Art Studies muncul karena adanya ketidaknyamanan atas permasalahan-permasalahan  kampus yang tak kunjung selesai. Lalu, terbesit kegelisahan berupa keinginan untuk mengadakan dan harus diadakan acara ini, meskipun pada dasarnya tidak adanya dukungan dana dari kampus ISI Yogyakarta.

“Menurut saya, tujuan dari acara ini sebagai sentilan untuk pihak atas,” ungkap Galih Ramadhan mahasiswa jurusan musik (2012), selaku pengisi acara (player opening) pada pertunjukan arts session di hari kedua. Ketua panitia mengaku acara ini dipersiapkan sejak beberapa bulan yang lalu agar acara lebih matang dan terkonsep karena mengundang bintang tamu yang terkenal. Prof. Sarah Weiss, selaku pengisi acara berpendapat “Acara ini bagus sekali, sangat bermanfaat untuk kita semua. Khususnya para peserta, sebab di sini saya membahas tentang ketiadaan kebudayaan di negara Singapura. Saya sangat tidak setuju akan hal tersebut karena, menurut saya semua punya kebudayaan. Sebab, kebudayaan itu munculnya tidak harus asli dari tempat itu sendiri. Namun, pada dasarnya kebudayaan bisa berkembang dan menjadi suatu hal yang baru.”

SYMPOSIUM – Perform di acara Symposium Creativity & Art Studies di Concert Hall Institut Seni Indonesia Yogyakarta.(24/05). Bapak Idang Rasjidi ‘Red Code’ melakukan perform sebagai penutup rangkaian acara Symposium selama dua hari. Kemeriahan tampak dari deretan bangku penonton yang hadir malam itu

“Harapannya, Symposium Creativity & Art Studies ini dapat memberikan edukasi untuk para peserta mengenai hasrat kreatif , music tradisi , pasar , dan media dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Selain itu juga sebagai bentuk sentilan kepada para petinggi kampus,” ungkap  Jibrilla Oktaviela Islamey.

 

Penulis : Adinda Lisa Irmanti / DI 2014, Foto : Afi Bantilan / Foto 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *