Art Effect

 

Majalah Art Effect

• Media Independen Produk LPM Pressisi Dalam Bentuk Majalah
• Media Penyampai informasi Seni Se-Indonesia Khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta
• Media dengan udut pandang seni dan estetika

Tentang Edisi Art Effect #5

Art Effect #5
Art Effect #5

Terikat Sebuah Nama Bernama Keluarga

Seni tercipta dari ide-ide yang berkeliaran di dalam kepala. Selanjutnya, dieksekusi menjadi karya melalui proses yang bisa jadi memakan waktu yang lama. Seperti layaknya sebuah organisasi yang tercipta dari kata sampai terbentuk menjadi ada. Melewati banyak rintangan dimana yang terus bertahan akan mencipta kenangan-kenangan yang menguatkan untuk tetap meneruskan perjuangan. Perjuangan yang tidak akan terhenti hanya setelah titik pertama terlewati. Perjuangan yang akan membentuk sebuah ikatan bernama keluarga. Perjuangan yang diyakini akan terus mengikat hati.

Sampai detik ini, ketika hujan mengguyur malam, Punggawa Pressisi masih setia duduk berdampingan dalam satu ruang. Membahas kata per kata sambil memilah gambar di kertas yang lama-lama mencipta kantuk pada mata-mata yang terfokus pada sebuah keyakinan. Hingga malam telah menjelma pagi tanpa sadar. Maka, setiap rentang waktu yang berputar menyisakan semangat yang saling tertuang dari suara-suara kekeluargaan yang saling menguatkan untuk menuntaskan apa yang telah dimulai sedari awal.

Sebuah perjalanan panjang yang menyertakan postmodern sebagai pembahasan dalam Art Effect edisi sekarang. Dengan mengetahui bahwa ada segelintir orang yang mengamini postmodern di era sekarang meskipun postmodern tidak banyak pula diakui oleh sebagian orang. Pada laporan utama akan dibahas mengenai postmo yang dipahami bukan lagi dengan sekelompok orang. Sibak Tradisi akan membawakan tulisan tentang sebuah pesantren waria yang hanya ada satu-satunya di Indonesia. Serta, akan ada opini-opini mengenai postmodern yang masih saja dipertanyakan dengan wujudnya yang sampai saat ini tidak berbentuk.

Jalan panjang yang sudah terlewati, sampai majalah ini ada di tengah Institut Seni Indonesia Yogyakarta, luangkan sedikit saja waktu untuk baca lembar-per lembar majalahnya. Sebab setiap lembar dari majalah ini merupakan sebuah jendela informasi. Untuk itu, simpanlah majalah ini sebagai reminder alami dalam daftar bacaan buku yang masih dicari dalam masa yang akan datang. Berikan kami para Punggawa sebuah saran atau kritikan untuk membuat sebuah buku bacaan yang kalian inginkan.

Redaksi

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *