Diskusi Kebebasan Pers dalam Pers Mahasiswa

Pengekangan kemerdekaan Pers, kemerdekaan berekspresi harus dilawan.

Yogyakarta – Dalam rangka menyambut  Hari Kebebasan Pers Sedunia yang jatuh setiap tanggal 3 Mei, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta sebagai organisasi yang membela kebebasan dan memberikan perhatian kebebasan pers menyelenggarakan forum diskusi kebebasan pers dalam Pers Mahasiswa (Persma). Kegiatan ini dilaksanakan di kantor AJI Yogyakarta, Jl. Pakel Baru UH VI/1124, Umbulharjo, Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Secara garis besar, pembahasan yang diangkat dalam diskusi ini adalah identifikasi persoalan kebebasan pers pada persma yang tujuannya untuk menampung dan memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh teman-teman dari lembaga pers yang ada di Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh teman – teman mahasiswa dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) yang ada di Yogyakarta, diantaranya LPM Balairung UGM, LPM Nuansa UNY, LPM Pressisi ISI, LPM Himmahdan Solid UII, LPM Arena UIN, LPM Beta STTN dan beberapa LPM lain yang terhimpun dalam Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI).

Pada dasarnya Persma sama seperti Pers Umum, ketika menjalankan tugasnya tidak terlepas dari berbagai ancaman. “Persma memang tidak diakomodasi dalam Undang-undang Pers. Undang-undang Pers yang ada sekarang ini hanya mengakomodasi media-media mainstream di bawah perusahaan, tidak untuk pers komunitas cetak, kecuali untuk pers komunitas radio diakomodasi dalam Undang-undang.” kata Divisi Advokasi AJI Yogyakarta, Bhekti Suryani, saat diskusi kebebasan persma. Menurutnya Persma sebagai bagian dari komunitas pers tidak mendapat akomodasi dalam Undang-undang Pers sehingga sulit jika terjadi sesuatu pada Persma, tidak ada empu-nya.

Divisi Litbang AJI Yogyakarta, Bambang Muryanto menambahkan bahwa meskipun Pers memiliki kebebasan Pers sejak reformasi 1998, tetapi pada faktanya sejak lima-enam tahun lalu mulai terdengar bahwa Persma mulai mendapatkan berbagai kekangan dari universitas, baik pada saat peliputan maupun penerbitan. “Yang terakhir, kami mendengar dari kawan-kawan UAD bahkan ketika dia menulis atau mengkritisi pihak kampus dan tidak mendapat persetujuan kampus, tidak akan diberikan dana saat penerbitan, di Persmanya dipasang CCTV bahkan diancam tidak akan diluluskan, dan sebagainya.”

Menurut Bambang, hal ini bukanlah hal yang bagus karena merupakan pengekangan kemerdekaan Pers, kemerdekaan berekspresi yang harus dilawan. Pihaknya melihat bahwa Persma sebagai sumber bibit – bibit untuk menjadi jurnalis masa depan. Apalagi sekarang Pers Mahasiswa menjadi kontrol yang sangat penting ketika komersialisme pendidikan meningkat dan semakin menguat. “Ini menunjukkan bahwa pentingnya Persma sebagai kontrol institusi pendidikan,”tandasnya.

Guna menangani dan membela kebebasan Persma, AJI akan mencatat segala permasalahan yang didiskusikan pada pihaknya. Dan AJI akan mencoba untuk membantu atau mengatasi kendala teman-teman Persma dalam hal kebebasan pers. (SS)