Distorisi #2: Eco Creative in Local Active

Seminar nasional dengan tajuk Distorisi kembali dihadirkan oleh mahasiswa Jurusan Desain Interior Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta untuk yang kedua kalinya. Tahun sebelumnya Distorisi mengangkat tema mengenai kaum urban dan tema yang diangkat pada seminar yang dilakukan pada Sabtu (22/11) tidak kalah menarik. Didasari pada isu mengenai akan adanya pasar global tahun 2015 maka dipilihlah Eco Creative in Local Active sebagai tema besar Distorisi #2.

“Tujuan acara ini untuk mempersiapkan diri sebagai desainer yang dapat bersaing dengan menunjukan nilai lokal sekaligus yang ramah lingkungan,” terang Ganesha P. Nabilah sebagai tim acara.

DSC_0811

            Acara ini mendapat tanggapan yang sangat positif dari pihak kampus, terbukti saat sambutan dari Dr. Suastiwi, M.Des, Dekan Fakultas Seni Rupa menyatakan sangat apresiatif dengan tema yang diangkat, “dengan adanya seminar ini diharapkan dapat membantu dalam mengatasi pemasalahan eco design,” ujarnya. Tidak hanya sambutan dari dekan fakultas, mahasiswa pun begitu antusias dalam mengikuti acara tersebut.

Distorsi #2 ini berjalan dengan lancar sesuai dengan jadwal yang telah dibuat oleh panitia. Panitia menghadirkan pembicara yang sangat menarik yaitu Watie Moerany, Direktur Pengembangan Seni Rupa, Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; Yoni Antar (Ir. Gregotius Antar Awal), arsitek, dan pendiri Yayasan Rumah Ayah; Alex Bagus Saputra, desainer interior;dan Ir. Eko Prawoto, arsitek dan dosen Teknik Sipil Universitas Kristen Duta Wacana.

DSC_0818

            Seminar nasional ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama diisi oleh Ir. Eko Prawoto dan Yoni Antar. Kemudian, sesi kedua diisi oleh Alex Bayu Saputra. Seminar tersebut dimoderatori oleh Sety Budi Astanto. Setiap berakhirnya sesi seminar, panitia memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya sebagai wujud timbal balik atas materi yang diberikan oleh pembicara. Dan ada pulan diskusi panel dengan para narasumber serta presetasi produk dari Karpenter.

Tidak hanya materi seminar nasional yang menarik, Distorsi #2 juga menampilkan beberapa karya hasil mahasiswa Desain Interior ISI Yogyakarta dan hasil workshop desain dari acara yang didukung oleh Propan. Sebagai salah satu respon positif seminar nasional maka panitia mendesain panggung pun dengan menggunakan kardus berkas yang ditata sedemikian rupa sehingga seperti candi Borobudur yang merupakan icon Jawa Tengah.

Seminar Distorsi #2 ini juga memiliki tujuan untuk menyiapkan para desainer terutama mahasiswa Desain Interior ISI Yogyakarta dalam mempersiapkan diri pada acara Temu Karya Mahasiswa Desain Interior Indonesia yang diadakan dua tahun sekali. Selain itu, dengan adanya smeinar ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat bagi para desainer untuk menciptakan karya yang unik dan ramah lingkungan, seperti kata Ir. Eko Prawoto bahwa arsitektur harus tetap selaras dengan lingkungan tanpa mengurangi keunikan. (AA/13)